Minggu, 04 Mei 2014

Di Mana Langit Senjaku?

Kini dahigu sudah semakin bercucuran keringat. Seharian aku dan adikku bermain tanah di kebun belakang. Tanah itu kubuat rong rong untuk kelinciku yang lincahnya bukan main. Beda dengan adikku yang berkali-kali berusaha menciduk-ciduk tanah yang kemudian diangkut ke sebuah truk mainan milikknya. Baju kami sudah tidak berbentuk lagi. Penuh dengan tanah. Tak jarang ketika itu kami mengabaikan suara ibu yang terdengar sedikit memaksa kami untuk segera masuk ke dalam rumah. “Cepat mandi, bersihkan diri kalian!”
 
Semakin sore, suasana mendadak berubah kelam. Suasana mendung berhasil menyelimuti total langit sore kali ini. Tak perlu diteriaki lagi, mood kami untuk bermain memudar seiring awan hitam semakin ramai memenuhi langit-langit senja yang seharusnya indah. Seindah perasaan kami saat bermain tadi. Aku tidak mengerti. Seharusnya langit lebih mengerti apa-apa yang sedang terjadi di muka bumi ini. Setelah merasakan terik yang tak kuhiraukan tadi, seharusnya aku melihat oren, jingga, atau apalah namanya, seperti biasa. Senja yang mampu menyejukkan hati di kala gundah. Senja yang mampu menuntun di kala terpuruk oleh rasa keragu-raguan. Senja yang selalu kunantikan.